Seekor induk penyu akan mendarat di pantai yang sama berulang kali seperti ibunya dulu pernah bertelur. Medan magnet bumi akan menarik induk penyu untuk bermigrasi ribuan kilometer ke wilayah peneluruan.
Hangatnya pasir menjadi asalan mengapa suatu pantai menjadi tempat favorit penyu untuk membuat sarang dan bertelur. Seekor induk penyu akan bertelur hingga ratusan butir di sarang yang ia gali dengan sirip belakangnya. Umumnya, proses bertelur memakan waktu hingga 2 jam.
Tidak semua telur akan menetas sempurna dan berhasil kembali ke lautan. Telur-telur penyu yang dikubur oleh induknya tetap akan melewati proses seleksi alam.
Pantai-pantai yang ramai pengunjung menjadi ancaman bagi telur penyu untuk bisa menetas. Oleh karena itu, di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, konservasi penyu hadir untuk menjaga penyu dari ancaman kepunahan.
Tak hanya manusia, hewan liar seperti biawak juga masuk dalam kategori predator alami yang kerap menggagalkan penetasan telur-telur penyu. Biawak mampu mengendus keberadaan telur penyu yang sudah ditutupi rapat oleh induknya. Setelah terendus, biawak akan menggali sarang dan memakan telur-telur penyu tersebut.
Pemindahan telur penyu dari sarang alami ke sarang semi-alami (konservasi) membutuhkan kehatian-kehatian. Perlu perlakuan khusus saat membawa telur penyu agar tidak terguncang keras dan tetap aman saat dimasukkan ke dalam sarang semi-alami. Menggunakan sarung tangan saat relokasi adalah cara terbaik agar telur penyu tetap steril.
Secara alami atau semi-alami, masa tetas penyu dalam sarang berlangsung selama 45-60 hari. Cepat atau lambatnya telur penyu menetas bergantung pada kondisi alam. Biasanya jika curah hujan tinggi, telur penyu akan menetas lebih lama.
Penyu betina bukanlah burung atau ayam yang mengerami telurunya untuk menjaga suhu telur. Induk penyu akan meninggalkan telur-telurnya di dalam sarang setelah bertelur dan tak akan pernah kembali untuk menengoknya sekalipun.
Telur-telur penyu membutuhkan panas alami matahari yang diserap oleh pasir. Suhu sarang telur penyu yang baik berkisar antara 25°C – 33°C.
Uniknya, suhu pasir mempengaruhi jenis kelamin penyu. Jika suhu pasir hangat maka telur yang menetas akan didominasi oleh penyu betina, namun jika suhu pasir cenderung dingin atau lembab, maka telur akan menghasilkan lebih banyak bayi penyu (tukik) jantan.
Jenis kelamin yang dipengaruhi oleh suhu pasir disebabkan karena penyu memiliki sifat Temperature-dependent Sex Determination (TSD).
Seluruh informasi tentang konservasi penyu di Blitar bisa dilihat pada akun instagram ini @konservasipenyusegorolestari. (BN)

.gif)
Posting Komentar untuk "Telur Penyu Menetas dalam Waktu 45-60 Hari, Suhu Pasir Tentukan Jenis Kelamin Penyu"